Emak Emak Desa Suka Ramai Larang Ponton Melintas di sungai Tembesi.

 

Batang Hari, Jambi. Corongreformasi.com.  Konflik  angkutan Batu Bara Hasil tambang di wilayah Kabupaten Batanghari bukan Hanya terjadi di Jalan Raya Saja, Namun kini Angkutan Batu Bara yang Melewati Jalur Sungai menggunakan Ponton mulai meresahkan warga sepanjang Bantaran Sungai yang di lintasi Ponton.

 

Kamis (08/05/2025) Masyarakat Desa Sukaramai berbondong-bondong mendatangi tepi sungai Batang Tembesi sambil membawa spanduk himbauan yang Bertuliskan menolak Tongkang angkutan Batu Bara Melintasi Sungai Tembesi.

Kepala Desa Sukaramai Sa’almi melalui Kadus II Andri saat di konfirmasi awak media terkait masalah ini mengatakan, pemicu turunnya masyarakat ke tepi sungai ini akibat dari tidak adanya itikad baik untuk menyelesaikan tuntutan pemilik tanah yang ada di DAS Batang Tembesi.

“Masyarakat kami sudah berang dengan perusahaan angkutan Batu Bara yang beraktivitas di sungai Batang Tembesi karena sudah jelas tertangkap tangan sedang menambat ponton di kebun milik warga malah merasa seperti tidak bersalah,”tuturnya.

Menurut Andri,Pemerintahan Desa sudah memanggil perwakilan perusahaan yang pernah mendatangi pemilik tanah untuk bermufakat.

“Pemerintah desa sudah memanggil mereka yang mengaku perwakilan perusahaan untuk bermusyawarah mufakat di Kantor Desa. Karena, sudah hampir dua minggu ini belum ada penyelesaian secara kekeluargaan antara kedua belah pihak,”jelasnya.

Pemanggilan itu bertujuan untuk memastikan apakah permasalahan ini cukup diselesaikan di Kantor Desa atau lanjut ke tingkat lebih tinggi.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Sukaramai Ibnu Suud mengatakan, masyarakat kami cuma menginginkan adanya tanggung jawab pihak perusahaan.

“Kami cuma menuntut tanggung jawab mereka, itu saja. Selanjutnya, bagaimana kontribusi pihak perusahaan dengan Masyarakat Desa yang wilayahnya ada DAS sebagai perlintasan Batu Bara,” tegasnya.

Tidak hanya itu, emak-emak juga ikut bersorak menghimbau kepada perusahaan tongkang Batu Bara untuk tidak melintas jalur sungai Batang Tembesi sebelum ada penyelesaian.

“Kami tidak ingin timbul permasalahan baru,” singkat masyarakat. (Man)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *